Menag: Belajar Agama Itu Menyenangkan

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan salah satu cara untuk menangkal paham radikal di sekolah dasar, khususnya dalam Pendidikan Islam. Hal ini disampaikan Lukman usai membuka kegiatam International Islamic Education Expo (IIEE) di Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/11) malam.

“(Cara tangkal radikalisme) khusus sekolah dasar yang masih basic, kami mengajak belajar agama itu sesuatu yang menyenangkan. Tuhan dekat dengan kita. Agama sesuatu yang tidak hanya menyenangkan tapi kita dibutuhkan,” ujarnya Lukman saat ditanya wartawan.

Lukman mengatakan, kewajiban seorang pendidik dalam Pendidikan Islam adalah bagaimana mengajarkan Islam yang ramah dan Islam yang tidak memberikan kesan sebuah ancaman. Dengan demikian, anak didik ke depannya tidak mempunyai paham radikal ataupun paham yang ekstrem.

“Kewajiban pendidik jangan memberikan kesan Islam penuh dengan ancaman dan siksaan, ditakuti, ini harus ada perubahan. Islam sesuatu tidak hanya menyenangkan tapi menjadi kebutuhan manusia,” ucapnya.

Lukman menambahkan, dalam setiap diri manusia sebenarnya memiliki ruh tuhan, sehingga para pendidik seharusnya bisa memaksimalkan hal itu untuk melahirkan generasi yang mempunyai akhlakul karimah.

“Setiap diri manusia ada ruh tuhan. Jadi sebenarnya manusia memiliki jiwa ilahi. Itulah kebenaran yang harus dimaksimalkan, ada kebutuhan bertindak baik agama, hakikat, perilaku, dan akhlak,” katanya.

MUI: Afghanistan Tertarik Belajar Kemajemukan Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengatakan delegasi Afghanistan menyatakan tertarik untuk belajar dari Indonesia dalam mengelola kemajemukan masyarakatnya. Ketertarikan itu disampaikan dalam pertemuan dialog lintas organisasi antarnegara di Jakarta, Selasa (21/110 yang terdiri dari perwakilan High Peace Council (HPC) Afghanistan bersama Majelis Ulama Indonesia, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama.

Ma’ruf mengatakan delegasi dari Negeri Para Mullah itu dalam lawatannya ke Indonesia berdiskusi dengan sejumlah unsur masyarakat Indonesia seperti tokoh dan ulama nasional disertai kunjungan ke sejumlah lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren. “Yang lebih utama, bagaimana Indonesia yang begini majemuknya, rasnya banyak, agamanya banyak, ormas Islam juga banyak tapi bisa terkelola dengan baik,” kata dia.
Ia mengatakan, delegasi Afghanistan mengutarakan di negara yang sempat dikuasai Taliban tersebut sejatinya tidak memiliki keragaman latar belakang seperti di Indonesia. Mazhab Islam di Afghanistan juga tidak sebanyak di Indonesia. Akan tetapi, konflik di Afghanistan sangat mudah terjadi hanya karena gesekan-gesekan dari unsur masyarakat yang berbeda.

Menurut dia, Indonesia dengan keragamannya yang sangat banyak justru bisa bersatu dalam kemajemukan. Kendati begitu, diakui di Indonesia terjadi sejumlah konflik tapi begitu ada gesekan tidak akan terjadi konflik berkepanjangan seperti yang terjadi di Afghanistan.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI KH Muhyiddin Junaidi mengatakan HPC Afghanistan di dalamnya terdiri dari berbagai perwakilan ormas keagamaan dari negara tersebut. MUI, kata dia, memberi penjelasan kepada HPC mengenai cara penanganan konflik di Indonesia yang mengedepankan dialog daripada dengan cara tekanan oleh militer.
Di Indonesia, kata dia, juga mampu membuktikan apabila Islam mampu bersanding dengan demokrasi dan berjalan selaras dengan unsur keagamaan. Kebaikan-kebaikan dari persatuan Indonesia yang memiliki keragaman latar belakang harus terus ditularkan demi perdamaian dunia, terutama kepada Afghanistan.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/21/ozrzul384-mui-afghanistan-tertarik-belajar-kemajemukan-indonesia

Hikmah Shalat Khusyuk

Saat terindah bagi seorang pecinta adalah ketika ia bertemu, bercengkrama, dan berdialog dengan orang yang dicintainya. Ketika itu, segala beban hidup dan kenestapaan akan hilang seketika. Bagi para shalihin, bertemu Allah lewat shalat adalah saat yang paling dinantikan, karena pada waktu itulah ia bisa mencurahkan semua isi hati dan bermi’raj menuju Allah. Walau demikian, ia akan kembali lagi ke alam realitas untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang didapat dari shalatnya. Inilah makna sesungguhnya dari khusyuk.

Khusyuk dalam shalat merupakan sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Mukminun: 1-3, “Beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna”.

Di lain pihak Rasulullah bersabda: Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyuan. (HR. At-Tabrani ) Dua keterangan di atas setidaknya mengadung pesan bahwa shalat seharusnya mampu membawa perbaikan kualitas hidup kita. Dengan kata lain, bila kita ingin sukses dan ingin berhasil dalam hidup ini, maka kuncinya adalah punya iman dan mampu khusyuk dalam shalat. Siapa pun di antara kita yang tidak pernah meneliti kualitas shalatnya, besar kemungkinan ia tidak akan sukses dalam hidup.

Dalam surat yang lain, Allah bersabda, “Celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. Al Ma’un: 4-5). Redaksi ayat tersebut bukan fi tapi an, yang menggambarkan bahayanya lalai sesudah shalat. Khusyuk ketika shalat hanya memakan waktu sekitar satu jam, sedangkan sehari 24 jam.

Karenanya, tidak mungkin shalat itu hanya efektif untuk yang satu jam. Yakinlah bahwa shalat yang satu jam harus bagus dan sisanya yang 23 jam harus lebih bagus lagi. Maka orang yang shalatnya khusyuk adalah orang yang mampu berkomunikasi dengan baik ketika shalat, dan sesudah shalat ia betul-betul produktif berbuat kebaikan terhadap umat.

Lalu, apa hikmah shalat yang bisa kita dapatkan? Pertama, Allah mengingatkan kita lima kali sehari tentang waktu. Orang yang khusyuk dalam shalatnya dapat dilihat dari sikapnya yang efektif menggunakan waktu. Ia tidak mau waktunya berlalu sia-sia, karena ia yakin bahwa waktu adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Pelajaran kedua dari shalat adalah kebersihan.

Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam QS. As Syams: 9-10 Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya”. Dengan kata lain, siapa yang shalatnya khusyuk maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih.

Mulai dari dhahir, rumah harus bersih. Bersih dari sampah, dari kotoran, dan bersih dari barang-barang milik orang lain. Sikap pun harus bersih. Mata, telinga, dan juga lisan harus bersih dari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Dan yang terpenting pikiran dan hati kita harus bersih. Bersihnya hati akan memunculkan kepekaan terhadap setiap titik dosa, dan inilah awal dari kesuksesan.

Ketiga, sebelum memulai shalat kita harus memasang niat. Niat sangat penting dalam ibadah. Diterima tidaknya sebuh ibadah akan sangat dipengaruhi oleh niat. Seorang yang shalatnya khusyu akan selalu menjaga niat dalam setiap perbuatan yang dilakukannya. Ia tidak mau bertindak sebelum yakin niatnya lurus karena Allah. Ia yakin bahwa Allah hanya akan menerima amal yang ikhlas. Apa ciri orang ikhlas? Ia jarang kecewa dalam hidupnya. Dipuji dicaci, kaya miskin, dilihat tidak dilihat, tidak akan berpengaruh pada dirinya, karena semua yang dilakukannya mutlak untuk Allah.

Setelah niat, shalat memiliki rukun yang tertib dan urutannya. Jadi, hikmah keempat dari orang yang khusyuk dalam shalatnya adalah cinta keteraturan. Ketidakteraturan hanya akan menjadi masalah. Shalat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan hanya milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Orang yang shalatnya khusyuk dapat dilihat bagaimana ia bisa tertib, teratur, dan
prosedural dalam hidupnya.

Kelima, hikmah dari manajemen shalat yang khusyuk adalah tuma’ninah. Tuma’ninah mengandung arti tenang, konsentrasi, dan hadir dengan apa yang dilakukan. Shalat melatih kita memiliki ritme hidup yang indah, di mana setiap episode dinikmati dengan baik. Hak istirahat dipenuhi, hak keluarga, hak pikiran dipenuhi dengan sebaiknya. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk proporsional dalam beragama, karena itu salah satu tanda kefakihan seseorang. Bila ini bisa kita lakukan dengan baik insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan yang paripurna., yaitu sukses di kantor, sukses di keluarga, dan sukses di masyarakat.

Keenam, shalat memiliki gerakan yang dinamis. Sujud adalah gerakan paling mengesankan dari dinamisasi shalat. Orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemuliaan, tapi ketika sujud kepala dan kaki sama derajatnya. Bahkan setiap orang sama derajatnya ketika shalat. Ini mengandung hikmah bahwa dalam hidup kita harus tawadhu. Ketawadhuan adalah cerminan kesuksesan mengendalikan diri, mengenal Allah, dan mengenal hakikat hidupnya. Bila kita tawadhu (rendah hati) maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kesuksesan seorang yang shalat dapat dilihat dari kesantunan, keramahan, dan kerendahan hatinya. Apa cirinya? Ia tidak melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya.

Hikmah terakhir dari shalat yang khusyuk adalah salam. Shalat selalu diakhiri dengan salam, yang merupakan sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagimu. Ucapan salam ketika shalat merupakan garansi bahwa diri kita tidak akan pernah berbuat zalim pada orang lain. Ini adalah kunci sukses, karena setiap kali kita berbuat zalim, maka kezaliman itu akan kembali pada diri kita.

Inilah tujuh hikmah yang bisa kita ambil dari manajemen shalat khusyuk. Bila kita mampu mengaplikasikannya, insya Allah kesuksesan dunia dan akhirat ada dalam genggaman kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Abdullah Gymnastiar    REPUBLIKA – Senin, 29 September 2003

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/09/01/01/23827-hikmah-shalat-khusyuk

Sejarah Kopi di Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi banyak orang, meminum kopi bisa menjadi rutinitas. Tetapi, tahukah Anda, perjalanan kopi terbilang panjang untuk bisa dinikmati seperti sekarang?

Steven Topik menceritakan kopi telah menjadi simbol dalam berbagai praktik spiritual, kontroversi politik, bahkan alat tukar jual-beli. Sejarah kopi dimulai di Ethiopia. Kopi tumbuh liar dan sering digunakan masyarakat setempat untuk upacara komunal dan penahan lapar saat berburu.

Dilansir dari muslim village, kopi mulai menyebar ke bagian lain di benua Afrika. Beberapa kelompok mencoba membuat minuman yang mencampurkan kopi dengan buah berry. Ada pula yang mencampurnya dengan mentega agar mudah dikunyah. Di sana, kopi pun mulai berubah menjadi alat tukar dalam perdagangan. Di Tanzania, kopi menjadi mata uang untuk bisa membeli ternak atau komoditas lain.

Kopi pun mulai menyebar ke seantero dunia berkat jasa para pedagang Arab. Diketahui, muslim Sufi di Yaman sangat menyukai kopi. Pria dan wanita sama-sama berbagi mangkuk berisi kopi. Dulu, kopi diminum untuk mengatasi masalah kesehatan dan diyakini memberikan kedamaian pada peminumnya.  Di Yaman, kopi menjadi barang yang sangat dominan selama 250 tahun. Tak mengherankan kopi menjadi sumber kekayaan baik secara ekonomi dan militer kekaisaran Ottoman.

Di seluruh negara-negara muslim, kopi menjadi kontroversial. Topik menulis, kopi menarik perhatian terutama bagi orang-orang yang menghindari alkohol. Terlebih pada perayaan menjelang malam Ramadhan mereka meminum kopi. Beberapa ilmuwan agama keberatan, prihatin dengan sifat obat yang terkandung dalam kopi, dan diyakinkan oleh interpretasi Alquran yang memperingatkan penggunaan kopi.

Perhatian lainnya adalah munculnya kedai kopi. Pembuatan kopi yang membutuhkan keterampilan membuat kebanyakan pedagang membuka kedai. Para pedagang menyadari tak bisa sekadar menjual biji kopi. Oleh karena itu, mereka membuka kedai kopi kemanapun mereka pergi. Tak pelak, tempat berkumpul baru pun bermunculan dan membuat khawatir beberapa pemimpin agama. Misalnya kekhawatiran kedai kopi membuat orang malas datang ke masjid.

Namun, pada 1500, kopi populer di sekitar Jazirah Arab. Bahkan menurut beberapa cerita (mitos), orang-orang Arab memuji Muhammad dan Malaikat Jibril karena telah membawa kopi itu ke bumi. Orang-orang Timur Tengah meminum kopi mereka dengan warna yang hitam dan tanpa pemanis. Lalu ketika orang-orang Eropa mulai minum kopi mereka tak terkesan dengan rasanya tetapi tertarik dengan manfaat yang terkadung dalam kopi.

Seiring waktu, Topik menulis, perkumpulan tersebut bergeser. Kopi menjadi minuman akademisi Eropa dan kapitalis. Tapi sama seperti di Timur Tengah, kedai kopi yang menjadi tempat bersosialisasi, juga dikhawatirkan beberapa penguasa Eropa. Kekhawatiran ini ternyata bisa dibenarkan, ketika kedai kopi berfungsi sebagai markas untuk merencanakan revolusi di 1789 Prancis, serta di 1848 Berlin, Budapest, dan Venesia.

Dengan pertumbuhan masyarakat konsumen di Eropa dan Amerika Serikat, penikmat kopi menyebar ke kelas pekerja. Ketika tentara Revolusi Amerika menerima jatah rum, justru tentara Perang Saudara itu mendapat kopi. Seorang pejuang mengklaim, jika ada kehormatan yang cukup bagi para veteran untuk membuat sebuah agama baru, mereka akan manjadikan kopi sebagai Tuhan.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/17/10/16/oxw9ir335-sejarah-kopi-di-islam

Saat Orang Rimba Bersyahadat dan Memilih Masuk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Orang Rimba diibaratkan sebagai suku primitif karena jauh dari perkembangan teknologi, bahkan tidak diketahui keberadaannya karena tinggal di pedalaman hutan. Nyatanya Indonesia memiliki beberapa tempat yang dijadikan ‘rumah’ bagi orang rimba hidup, salah satunya hutan hujan Sumatera.

Namun ketika orang-orang berdompet tebal membakar hutan demi menanam barisan pohon sawit, orang rimba akhirnya harus meninggalkan rumahnya menuju tempat baru, Jambi. Saat menempati tempat barunya, orang rimba tentu harus beradaptasi dengan lingkungan barunya yang lebih ‘terbuka’ dibandingkan rumah mereka sebelumnya.

Orang rimba yang sejatinya tidak berteguh pada satu kepercayaan, selain adanya hal yang diyakini sebagai roh atau dewa. Namun, sejak banyaknya pihak yang berniat membantu kehidupan orang rimba, salah satunya ormas Front Pembela Islam (FPI) memberikan bantuan, mereka diajak untuk mulai mengenal agama islam.

Salah satu da’i dari rombongan tersebut, Ustaz Reyhan bahkan memutuskan untuk tinggal untuk membina langsung orang rimba yang ingin mempelajari lebih jauh tentang islam. Usaha Reyhan menyebarkan ajaran Islam berbuah manis, dengan terucapnya dua kalimat syahadat dari bibir-bibir orang rimba tersebut.

“Untuk saat ini kami berfokus pada anak-anak, lebih mudah untuk mengkonversinya – pikiran mereka tidak dipenuhi dengan hal-hal lain. Dengan yang lebih tua itu lebih sulit,” kata Reyhan seperti dilansir BBC pekan lalu.

Menurut Reyhan, sebelum mengenal Islam, orang rimba tidak memiliki tuntunan hidup, dan hanya mengandalkan insting. Saat salah satu dari mereka meninggal, biasanya jenazahnya hanya ditinggalkan di tengah hutan tanpa dikubur. “Kini hidup mereka memiliki makna dan arahan. Agama juga membuat mereka paham bahwa ada kehidupan lain setelah kematian,” kata dia.

Pemimpin suku rimba, Muhammad Yusuf mengaku turut memutuskan untuk memeluk Islam. Meskipun awalnya dia mengambil keputusan masuk Islam karena tidak adanya pilihan lain, tapi kini dia mengaku sangat bersyukur. Keyakinan atau agama, bagi Yusuf adalah salah satu cara untuk menyetarakan diri dengan orang lain yang tinggal di daerah ‘terang’ atau orang yang hidup di wilayah yang modern.

“Agar anak-anak bisa memiliki kesempatan yang sama dengan orang luar, orang-orang terang, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus semua masuk Islam,” kata Yusuf.

Kisah Yusuf Mansur Dari Gaji 50 ribu Sebulan

Ustad Yusuf lahir dari keluarga Betawi yang berkecukupan. Ustad Yusuf adalah buah cinta dari pernikahan Abdurrahman Mimbar dan Humrif’ah.Ustad Yusuf sangat dimanja oleh orangtuanya. Tak ada permintaannya yang tak dikabulkan oleh orangtuanya. Kala muda Ustad Yusuf gemar balapan motor. Ia lebih suka balapan dari pada kuliah. Ustad Yusuf yang kuliah di jurusan Informatika berhenti di tengah jalan. “Saya ini DO (droop Out),” cerita Ustad Yusuf. Pada tahun 1996 Yusuf terjun dibisnis Informatika. Sayang bisnisnya ini tak mendatangkan untung. Bahkan malah menyebabkan dirinya terlilit utang yang jumlahnya miliaran.

Gara-gara terlilit utang juga Ustad Yusuf harus merasakan dinginnya hotel prodeo selama 2 bulan. Lepas bebas Yusuf kembali mencoba berbisnis kembali, tapi kembali gagal dan terlilit utang kembali. Cara hidup yang keliru membawa Ustad Yusuf kembali masuk bui pada 1998. “Saat itu saya lupa dan jauh dari Allah. Dampak dari itu luar biasa,” ucap Ustad Yusuf. Di penjara yang kedua Yusuf mendekam di bui selama 14 hari. Hari-hari Yusuf terasa berat di dalam penjara. Satu hari di dalam penjara, Ustad Yusuf merasakan rasa lapar yang amat sangat. Maklum seharian belum makan, jatah makanan tidak ada. Di dekat tempat duduknya, Ustad Yusuf melihat sepotong roti. Ketika roti akan masuk ke mulutnya, ia melihat segerombolan semut yang tengah mencari makan. “Entah apa yang saya pikirkan saat itu. Yang pasti, saya membagi roti itu menjadi dua bagian, untuk semut-semut dan untuk saya sendiri sambil berharap mereka akan mendoakan saya agar segera mendapatkan makanan. Ajaib! Lima menit setelah itu saya dapat nasi bungkus Padang,” tutur Ustad Yusuf. Petunjuk itu yang membuat hidup Ustad Yusuf berubah. “Saya yang narapidana bisa mendapatkan manfaat dari berbagi roti dengan semut, apalagi yang sedang bebas di luar,” tandas pria yang menghabiskan masa kecilnya di madrasah ini. Hal ini yang menginspirasi Ustad Yusuf untuk menyampaikan materi sedekah di setiap tausiah.

Pengalaman di penjara juga yang menginspirasi Ustad Yusuf untuk menulis buku Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang. Buku itu terinspirasi kala Ustad Yusuf sangat rindu dengan orangtuanya. “Secara fisik, tembok penjara memang memisahkan saya dan orangtua. Tapi hati kami tidak terpisahkan. Akhirnya saya memejamkan mata dan mengosongkan pikiran. Saya bawa hati saya untuk bertemu dengan ibu dan saudara-saudara saya. Ajaib itu mampu mengobati rindu saya pada orangtua,” kenang ustad Yusuf.

Ustad Yusuf bahagia sekali kala kerabatnya menjemput dirinya dipenjara. Tapi baru keluar dari penjara, ia kembali berutang. Pasalnya mobil yang digunakan untuk menjempt Ustad Yusuf belum dibayar alias hutang. Lepas penjara Ustad Yusuf mencoba meminta uang pada orangtuanya sebesar 20 juta untuk modal usaha. Tapi kala itu orangtuanya tidak ada, yang ada hanya kerabatnya. Oleh kerabatnya, Ustad Yusuf diberi uang sebesar 20 ribu: 3 ribu untuk o­ngkos, 3 ribu untuk makan, dan sisanya dibuat modal untuk jual es plastik. Ustad Yusuf pernah jualan es di terminal Kali Deres. Hari pertama jualan, esnya hanya terjual 5 buah. Ustad Yusuf bingung dengan masa depannya. Ustad Yusuf terinspirasi kala mengaji dengan gurunya. Gurunya mengajar Ustad Yusuf untuk sedekah. Esoknya 5 butir esnya ia sedekah ‘kan pada anak-anak. “Usai sedekah, es saya tak kunjung laku. Saya jalan keliling terminal, tapi tidak ada yang beli. Lantas saya letakkan termos es di dekat masjid, sedang saya sholat dan berdoa. Ajaib, begitu selesai sholat es saya habis,” Ustad Yusuf kembali menceritakan betapa besarnya kekuatan sedekah.

Bisnis es Yusuf berkembang, tak lagi berjualan pake termos, tapi pakai gerobak. Ia juga mulai punya anak buah. Kabar Ustad Yusuf berjualan es sampai di telinga orangtuanya yang lantas mengutus pembantunya untuk mencari kebenarannya. Hasil utusan orangtua Ustad Yusuf tak bertemu. Ustad Yusuf tak lagi berjualan di Kali Deres lagi. “Utusan ibu saya bilang, pada ibu saya kalau saya tidak mungkin jualan es karena sebelumnya saya sudah terbiasa hidup enak,” katanya. Hidup Ustad Yusuf mulai berubah kala ia berkenalan dengan polisi. Polisi itu memperkenalkan ia dengan LSM. “Saat itu gaji saya cuma 50 ribu sebulan. Tapi senangnya saya kembali akrab dengan dunia komputer,” ucapnya. Selama kerja di LSM, Ustad Yusuf membuat buku Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang. Tak dinyana, buku itu mendapat sambutan yang luar biasa. Ustad Yusuf sering diundang untuk bedah buku tersebut.

“Cara saya membedah buku saya dengan bertutur. Ternyata cara ini banyak disukai orang. Dari sini saya sering diundang ceramah,” tutur Ustad Yusuf mengisahkan, pengalamannya meski tak sempat menuntaskan kuliah, Ustad Yusuf bersama dua temannya mendirikan perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Cipta Karya Informatika.

Lewat materi sedekah, Ustad Yusuf pada pekan lalu berhasil mengumpulkan uang lebih dari 60 juta saat mengadakan tausiah di Bali. “Kalau saya tidak bisa sedekah sebesar itu. Yang saya bisa menggerakkan orang untuk bersedekah,” ucap Ustad Yusuf merendah. Ustad Yusuf menjelaskan, banyak manfaat dari mengajak orang untuk bersedekah. Apalagi ditambah dengan ajakan lain semisal Dhuha, Tahajud, dan amal shaleh lainnya,

Bahkan untuk mengejar hutangnya yang segunung alias milyaran dengan penghasilan yang ngepas itulah Ustadz Yusuf Mansur mulai mengajar diterminal kali deres, mengajarkan sedekah, dengan mengajak orang mempraktekan sedekah maka pahalanya sama dengan jumlah nilai sedekah yang dikumpulkan, nilai pahala yang kekumpul akhirnya dengan izin Allah SWT hutangnya terlunasi dan penghidupannya yang menanjak.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu, sedang barangsiapa yang mengajak kearah keburukan, maka ia memperoleh dosa sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu.” (HR Muslim)

Karier Ustad Yusuf makin mengkilap setelah bertemu denganYusuf Ibrahim, Produser dari label PT Virgo Ramayana Record. Kerja samanya dengan Yusuf Ibrahim, Ustad Yusuf menelurkan kaset Tausiah Kun Faya Kun, The Power of Giving dan Keluarga Sakinah yang baru saja di lepas ke pasar.

Lewat tausiah, Ustad Yusuf berharap, bisa menutup semua dosa yang pernah ia perbuat. “Dosa saya ini banyak sekali, terutama pada orangtua saya. Saya ini pernah menjual tanahnya tanpa sepengetahuan beliau. Dengan tausiah saya berharap dosa saya makin lama makin hilang. Inilah yang bisa saya lakukan untuk Allah,” ucap Ustad Yusuf. Ternyata petunjuk Allah bisa datang dari mana saja dengan cara yang sama sekali tidak kita sadari. Seperti yang dialami Ustad Yusuf yang disadarkan oleh Allah melalui semut. Namun tidak semua orang mau mengambil hikmah dan pelajaran yang sedemikian banyak. Dan tidak semua mereka mau menjadikan Quran dan Sunnah sebagai pedoman kehidupannya.

Membeli Kesuksesan dengan Sedekah

“Mengapa seseorang selalu merasa kurang secara penghasilan?

Mungkin karena ia kurang sedekah!” buka Ustad Yusuf Mansur malam itu. Beliau melirik sekelilingnya. Wajah-wajah muda, dengan tatapan penuh semangat tengah duduk mengelilinginya. Mereka adalah 20 besar kontestan eliminasi Mimbar Dai TPI. Mereka tekun menyimak penuturan ustad pendiri Wisata Hati Coorporation itu. Malam itu, tanggal 12 Juli 2005, Ustad Yusuf mendapat kesempatan memberikan pembekalan atau pelatihan bagi para dai muda di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi. Acara yang diselenggarakan habis Isya sampai pukul 21.00 itu, berlangsung cukup seru. Dilengkapi beberapa games, salah satunya berupa simulasi dengan selembar kertas, yang mengundang tanya peserta. Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang didapat. Mungkin diri kita pernah merasakan demikian. Maka instropeksilah, mungkin sedekah yang kita keluarkan terlalu sedikit, sehingga berkah yang Allah berikan juga sekedarnya. Padahal dalam surat Al An’am ayat 160, Allah sudah janji akan melipatgandakan pahala sampai 10 kali lipat bagi mereka yang berbuat kebaikan. Jadi sebetulnya kita tak perlu ragu untuk menyisihkan penghasilan bagi mereka yang membutuhkan. 1 – 1 = 10, itulah ilmu sedekah. Banyak kejadian dibalik fenomena keajaiban sedekah.

Dalam kesempatan tersebut, Ustad Yusuf memaparkan beberapa kisah yang Insya Allah mampu meningkatkan keyakinan kita, bahwa Allah pasti akan meliptrgandakan pahala-Nya, bila kita sedekah. Contohlah sebuah kisah tentang seorang supir yang mengeluh karena gajinya terlalu kecil.

“Supir ini datang ke Klinik Spiritual dan Konseling Wisata Hati. Dia bilang gajinya cuma 800 ribu, padahal anaknya lima! Ia ingin gajinya jadi 1,5 juta!” ujar Ustad Yusuf sambil duduk bersila di permadani.

Dengan bijak, Ustad Yusuf mengajak supir itu mensyukuri terlebih dahulu apa yang telah didapatkannya selama ini. Kemudian ia menunjukkan surat Al An’am 160 dan surat 65 ayat 7, mengenai anjuran bagi yang kaya untuk membagi kekayaannya dan yang mampu membagi kemampuannya.

Supir itu lantas bertanya,”Kapan ayat-ayat itu dibaca dan berapa kali, Ustad?” “Nah, inilah kelemahan orang kita,” potong Ustad Yusuf sejenak, “Qur’an hanya untuk dibaca!”

Agak kesal dengan pertanyaan sang supir, Ustad Yusuf menyuruhnya segera berdiri. Kemudian ia bertanya, ”Maaf… boleh saya tanya pertanyaan yang sifatnya pribadi? ”Supir itu mengangguk. “Nggak bakal tersinggung?” Kembali supir itu mengangguk. “Bawa duit berapa di dompet?” desak Ustad Yusuf. Supir itu mengeluarkan uangnya dalam dompet, jumlahnya seratus ribu rupiah. Langsung Ustad Yusuf mengambilnya. “Nah, uang ini akan saya sedekahkan, ikhlas?”

Supir itu menggaruk-garukkan kepalanya, namun sejurus kemudian mengangguk dengan terpaksa. “Dalam tujuh hari kerja, akan ada balasan dari Allah!” “Kalau nggak, Ustad?” “Uangnya saya kembaliin!”

Mulailah sejak itu ia menghitung hari. Hari pertama tidak ada apa-apa, demikian pula hari kedua, bahkan pada hari ketiga uangnya hilang sejumlah 25 ribu rupiah. Rupanya ketika ditanya Ustad Yusuf tempo hari, sebenarnya ia bawa uang 125 ribu rupiah, namun keselip.

Pada hari keempat supir itu diminta atasannya untuk mengantar ke Jawa Tengah. Selama empat hari empat malam mereka pergi. Begitu kembali, atasannya memberikan sebuah amplop, “Ini hadiah istri kamu yang kesepian di rumah,” begitu katanya.

Ketika amplop itu dibuka, Subhanallah…. Jumlahnya 1,5 juta rupiah. Para dai muda yang menyimak cerita itu terkagum-kagum.

Kemudian ustad Yusuf bertanya, “Siapa yang belum nikah?” serentak hampir semua peserta mengacungkan tangan dengan semangat, seraya bergurau. “Nah, selain untuk memanjangkan umur, mengangkat permasalahan, sedekah juga mampu membuat orang yang belum kawin jadi kawin, dan yang udah kawin…” “Kawin lagi???” jawab beberapa peserta, kompak! Ustad Yusuf tertawa, “Yang udah kawin… makin sayang…”

Lalu mengalunlah sebuah cerita lain. Ada seorang wanita berusia 37 tahun yang belum menikah mengikuti seminarnya. Setelah mendengarkan faedah sedekah, wanita itu lantas pergi ke masjid terdekat dari rumahnya dan bertanya pada penjaga masjid itu, “Maaf, Pak… kira-kira masjid ini butuh apa? Barangkali saya bisa bantu…” “Oh, kebetulan. Kami sedang melelang lantai keramik masjid. Semeternya 150 ribu…” Wanita itu menarik sejumlah uang dari sakunya, yang berjumlah 600ribu. Tanpa pikir panjang ia membeli empat meter persegi lantai tersebut,”Mudah-mudahan hajat saya terkabul…” harapnya.

Subhanallah… Allah menunjukkan keagungan-Nya. Minggu itu juga datang empat orang melamarnya! “Itulah sedekah!”

Ustad Yusuf menantang mata peserta,”Sulit akan menjadi mudah, berat menjadi ringan… asal kita sedekah!”

Sebuah kisah unik lainnya terjadi. Suatu hari, seorang wartawan mengajak Ustad Yusuf ke Semarang, hanya untuk berpose dengan sebuah mobil Mercedez New Eyes E 200 Compresor baru. Tak ada yang istimewa dengan mobil itu kecuali harganya yang mahal, sekitar 725 juta rupiah, dan… mobil itu milik seorang tukang bubur keliling!

Loh, bagaimana bisa seorang tukang bubur punya mercy? Bisa aja kalau Allah berkehendak. Tukang bubur itu tentunya tak pernah bermimpi bisa memiliki sebuah mobil Mercedez baru. Namun kepeduliannya kepada orang tua, justru membuatnya kejatuhan bulan.

Karena orang tuanya ingin naik haji, tukang bubur itu giat sedekah. Ia sengaja menyediakan kaleng kembalian satu lagi, khusus uang yang ia sedekahkan. Yang kemudian ia tabung di sebuah bank. Ketika tabungannya itu telah mencapai 5 juta, ia mendapatkan satu poin memperebutkan sebuah mobil mercy. Dan si tukang bubur itulah yang memenangkan hadiah mobil tersebut.

Karena tak mampu membayar pajaknya sebesar 25%, seorang ustad bernama Hasan, pemilik Unisula, membantunya. Maka, jadilah mobil itu milik tukang bubur.

Kisah terakhir, tentang hutang 100juta yang lunas hanya dengan sedekah 100 ribu rupiah. Orang ini mendengarkan ceramah seorang ustad yang mengatakan, kalau sedekah itu dapat membeli penyakit, dapat membayar hutang, dan dapat menyelesaikan masalah. Teringat hutangnya sejumlah 100 juta, ia menyedekahkan uang yang ada, sebesar 100 ribu.

Dalam hatinya ia berharap hutangnya dapat cepat lunas. “Dan… Allah mengabulkan doanya secepat kilat. Begitu pulang dari pengajian, saat menyebrang jalan, orang itu tertabrak mobil dan lunaslah hutangnya!” seru Ustad Yusuf berapi-api.

Semua peserta melongo kemudian tertawa. Hampir semua menebak orang itu meninggal, sehingga si pemilik piutang mengikhlaskan hutangnya.

“Nggak!” koreksi Ustad Yusuf cepat, “Dia cuma pingsan. Kebetulan yang nabrak orang kaya. Selain dibawa ke rumah sakit, dia juga melunasi hutangnya!”

Itulah… Allah punya cara tersendiri untuk menolong hamba-Nya. Selain memberikan materi tentang sedekah, Ustad muda berkulit putih ini juga memberikan masukan dan saran tentang bagaimana tampil yang baik di hadapan audience (baik di televisi ataupun di ruangan), di antaranya mengajarkan teknik memotong materi (untuk commercial break) yang baik, sehingga pemirsa televisi enggan mengganti saluran dan tetap menunggu sampai iklan berakhir, lalu cara melibatkan emosi audience, melibatkan orang sekitar acara (baik outsider, maupun insider), intonasi suara, melakukan atraksi menarik, dan sebagainya.

Sumber http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2009/10/membeli-kesuksesan-dengan-sedekah-ust.html

Keajaiban Sedekah

Keajaiban Sedekah

Subhanallah, janji Allah selalu tepat. Berikut semua testimoni, semoga menjadi motivasi dan ilmu untuk kita semua…

Assalamu’alaikum wr. wb Ustadz Yusuf Mansur (UYM) Perkenalkan saya Ayu, penggemar tausyiah UYM terutama masalah sedekah. Saya akan cerita pengalaman pribadi tentang efek dari sedekah seperti yang UYM selalu anjurkan. Langsung aja ya Ustadz ceritanya.

Saya pribadi percaya sekali akan kekuatan sedekah, namun saya masih belum bisa seperti UYM yang sanggup sedekah sampai dengan 100%, insyaAllah saya akan terus belajar.

Saya punya suami yang tidak begitu yakin akan kekuatan sedekah. Menurut suami saya, kewajiban muslim adalah zakat 2.5%, itu saja yang wajib dilakukan. Kalau masih berlebih baru sedekah karena sifatnya tidak wajib.

Saya sendiri tidak setuju dengan prinsip suami seperti itu. Terkadang kami berdebat masalah ini. Karena bagi saya, setiap bulan setelah menerima gaji wajib dikeluarkan zakat 2.5% dan sedekah semaksimal mungkin.

Tapi lama-lama saya capek juga debat karena suami saya keukeh dengan prinsipnya.

Suatu saat saya mendengarkan video UYM di YouTube mengenai “Naik Gaji 7 juta per bulan menjadi 125 juta per bulan karena sedekah gaji 1 tahun”.

Setelah mendengar video ini saya sengaja puter lagi dekat suami dengan volume yang besar, dengan tujuan supaya suami denger juga.

Setelah video selesai, saya sengaja pancing suami saya ingin tau gimana responnya. “Pa,mantab juga ya dari gaji 7 juta per bulan menjadi 125 juta per bulan hanya karena sedekah. Kita coba yuks”…

“Itu beneran apa, jangan-jangan promosi doang…”

“Masa promosi, itu kan pengalaman pribadi adiknya UYM. Masa ya UYM bohong…”

“Bukan bohong, tapi kan kejadian seperti itu 1 banding berapa?”

Haduuhhhhh, rasanya dongkoolll banget dengar komentarnya.

Akhirnya saya hanya berdoa minta sama Allah SWT supaya suami disadarkan akan pentingnya sedekah, karena sebenarnya yang merasakan manfaatnya ya kita sendiri.

Satu tahun berlalu, sampai suatu ketika suami saya kena PHK karena perusahaannya tempat bekerja sedang gonjang-ganjing.

Tadinya waktu teman-teman suami saya sudah terkena PHK duluan, suami saya bilang mau resign aja dan pindah kerja di perusahaan lain.

Saya bilang jangan, karena setelah dihitung-hitung, resign hanya mendapatkan pesangon maksimal 2 kali gaji, sedangkan PHK bisa dapat minimal 10 kali gaji, karena suami saya sudah bekerja lebih dari 10 tahun.

Alhamdulillah suami mau mendengar pertimbangan saya. Intinya kami hanya menunggu giliran suami kena PHK, meskipun secara pribadi saya kebat-kebit juga karena saya baru hamil 2 bulan.

Saya kembali ingat tauziah UYM mengenai Seberapa besar KEYAKINAN kita kepada Allah SWT. Akhirnya saya berdoa dan pasrah minta yang terbaik buat masa depan kami dan YAKIN pasti Allah SWT akan memberikan yang terbaik menurut-Nya.

Singkat cerita, akhirnya tiba juga giliran suami saya kena PHK. Saya hanya bisa mengucapkan Innalillahi wa innailaihi roji’un dan Alhamdulillah. Saya memantapkan hati berarti ini memang yang terbaik menurut Allah SWT.

Setelah dapat keputusan paginya, malamnya kami diskusi panjang mau diapakan pesangon ini.

Alhamdulillah saya ingat video UYM yang pertama. Saya bilang saatnya sekarang papa harus yakin akan janji Allah SWT mengenai sedekah.

Saya bilang papa mau gaji berapa per bulannya? Suami saya bilang kalau 50 juta per bulan kebesaran ga ya?

Saya bilang jangan mengecilkan Allah SWT, mau seberapa besar kita minta kalau menurut Allah SWT kita pantas mendapatkannya pasti dikasi. Karena suami ga pede, mintanya 30 juta per bulan saja katanya.

Akhirnya kami hitung 30 juta per bulan x 12 bulan x (10%) = 42 juta. Mantap, sudah kami sedekahkan senilai itu (ada sebagian yang suami gunakan untuk berangkat umroh, kami anggap sebagai salah satu bentuk sedekah juga).

Memang Allah SWT tidak akan ingkar terhadap janjinya.

Alhamdulillah 1,5 bulan setelah suami kena PHK, suami dapat tawaran untuk interview kerja. Pada saat ditanya salary yang diminta berapa, suami bilang 26 juta per bulan.

Dan tanpa disangka-sangka, suami langsung diterima dengan gaji 30 juta per bulan, sesuai dengan yang diinginkan sebelum mengeluarkan sedekah.

Suami sampai takjub, ternyata memang benar Allah SWT tidak akan ingkar terhadap janjinya selama kita YAKIN.

Sampai-sampai suami bilang begini : kenapa ya waktu itu papa tidak pede minta gaji 50 juta per bulan, bener kata mama, kalo kita tidak boleh mengecilkan Allah SWT, karena apabila Allah SWT sudah berkehendak pasti akan terjadi. Yang penting kita mau bersedekah dan yakin…

Alhamdulillah Ya Allah, Engkau sadarkan suami hamba dengan cara-MU yang tidak disangka-sangka.

Setelah diterima, masih ada ganjalan sedikit, suami disuruh segera tanda tangan kontrak dan mulai kerja. Suami saya minta waktu untuk diskusi dengan istri.

Suami sempat bingung karena mulai kerjanya itu bersamaan dengan jadwal umroh. Suami saya takut kalau perusahaan berubah pikiran apabila suami minta waktu mulai kerja setelah umroh.

Saya bilang, kalau memang perusahaan ini tingkat toleransi agama nya tinggi, pasti boleh, karena umroh adalah ibadah juga.Akhirnya bener, suami dibolehkan menyelesaikan umrohnya dulu baru mulai kerja.

Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah. Saya dan suami tidak berhenti bersyukur akan rejeki dari Allah SWT ini.

Setelah kejadian ini suami saya sangat mantab 1000% akan kekuatan sedekah dan kami tidak pernah berdebat lagi masalah sedekah.

Terima Kasih UYM atas ilmu yang telah diajarkan kepada kami melalui tausyiahnya. Semoga UYM diberi pahala yang setimpal oleh Allah SWT. Aamiin.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Sumber : http://yusufmansur.com/keajaiban-sedekah

Ustaz Yusuf Mansur, Ungkap Rahasia Sukses dengan Shalat Dhuha

 

 

 

 

“SAYA deg-degan pas turun pesawat tadi,” kata Dai Kondang, Ustaz Yusuf Mansur saat berbincang dengan Serambi di kediaman Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, di kawasan Lamdingin, Banda Aceh, Kamis (26/2).

Ustaz yang dikenal dengan gaya bicaranya yang simpel dan apa adanya ini tampak bahagia kembali menginjakkan kakinya di bumi Aceh yang sempat porak-poranda akibat musibah gempa dan tsunami 2004 silam.

Ia menuturkan ini merupakan kali pertama ke Aceh pascatsunami. “Dulu waktu tsunami gak kesini kan, waktu lihat itu di televisi saya menangis, Masya Allah,” ujarnya dengan menyiratkan duka yang mendalam dari raut wajahnya. Namun, menurutnya perubahan Banda Aceh sebelum dan sesudah tsunami tampak berubah sekali.

Kedatangan Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran Bulak Santri, Cipondoh, Tangerang itu ke Banda Aceh dalam rangka mengisi Dakwah Umum Jumatan yang dilaksanakan tiap sebulan sekali oleh Pemko Banda Aceh melalui Dinas Syariat Islam setempat. “Iya, kesini hanya berdakwah dan belanja batu,” kelakarnya.

Ustaz Yusuf Mansur dalam bincang-bincangnya juga menyampaikan terkait Banda Aceh sebagai model kota madani. Ia menuturkan tentang sejarah Rasulullah saw yang membangun Madinah, mempersatukan umat-umat muslim dan berbagai elemen masyarakat. “Kalau kita percaya diri pasti Allah akan tolong kita,” katanya.

Ustad Yusuf Mansur lahir di Jakarta pada 19 Desember 1976. Ayahnya Abdurrahman Mimbar dan ibunya Humrifiah, keduanya orang Betawi. Dia memiliki seorang istri bernama Siti Maemunah dan dikaruniai tiga anak yaitu Qumii Rahmatul Qulmul, Wirda Salamah Ulya, dan Aisyah Humairoh Hafidzoh.

Ustadz Yusuf Mansur merupakan lulusan terbaik dari Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat pada 1992. Ia pernah kuliah di jurusan Informatika, namun berhenti di tengah jalan. Meski tak sempat menuntaskan kuliah, ia bersama temannya mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Cipta Karya Informatika.

Pada 1996, ia terjun ke dunia bisnis informatika, namun sayang ia malah terlilit utang dan harus masuk rumah tahanan selama 2 bulan dan terulang kembali pada 1998. Selama di penjara Ustaz Yusuf Mansur menemukan hikmah tentang hebatnya sedekah. Sehingga selepas dari penjara ia memulai usaha dari nol dengan berjualan es. Berkat keikhlasan sedekah, akhirnya bisnis beliau berkembang.

Hidup Ustaz Yusuf Mansur mulai menemukan titik terang setelah ia bekerja pada satu LSM. Di sini ia menulis buku Wisata Hati Mencari Tuhan yang Hilang, yang terinspirasi oleh pengalamannya sewaktu di penjara. Berkat buku tersebut, Ustadz Yusuf Mansur sering diundang untuk mengisi bedah buku dan dari pula undangan ceramah mulai ditekuninya.

Menurut Ustaz Yusuf Mansur, masyarakat Aceh patut bersyukur memiliki pemimpin yang peduli pada kegiatan dakwah dan ajaran-ajaran Islam lainnya. Ia mencontohkan seorang sahabatnya yang memiliki uang hingga triliunan, namun pada 1998 harus kembali dari Singapura karena bangkrut. Pada tahun itu juga sahabatnya tersebut tidak mempunyai uang untuk mengontrak rumah.

“Ini orang ketika SMA number one, ketika kuliah di Amerika IPK-nya 4,00. Lalu apa yang menjadikan dia sekarang sebagai seorang anak muda terkaya di Indonesia? Saat itu istrinya bilang sama dia, kayaknya kita harus shalat Dhuha ini supaya rezeki kita bertambah. Lalu mereka berdua shalat Dhuha untuk pertama kalinya delapan rakaat, dan selalu seperti itu,” tutur Ustaz Yusuf Mansur.

Sahabatnya tersebut kemudian masuk ke industri tambang batubara yang saat itu sedang berkembang pesat. “Beliau bilang ke saya, Ustaz Yusuf sebenarnya yang nyelamatin saya ilmu sederhana yang diajarkan orang-orang tua. Bukan ilmu dunia, bisnis, manajemen, bla… bla… bla… Tapi itu saja, shalat Dhuha. Bayangin yang kecil ini saja perubahannya luar biasa, is little the part,” katanya mengenang perkataan sahabatnya itu.

Ustaz Yusuf Mansur juga mengakui bahwa utangnya yang banyak itu dulu dapat diselesaikan dengan hal-hal seperti itu mengikuti peraturan Allah. “Saya dulu punya utang banyak, dengan itu juga selesainya. Jadi orang Aceh dan Indonesia harus percaya, ikuti perintah Allah kalau mau selamat,” ujar Ustaz penghafal 30 juz Alquran itu.

Lalu, dengan izin Allah semua urusan dan rezekinya dimudahkan, serta pada 2006 semua utang akibat usaha bisnisnya yang gagal dapat dilunasinya. Saat bincang-bincang yang berlangsung di kediaman wali kota Banda Aceh, turut juga dihadiri Kadis Syariat Islam Kota Banda Aceh, Mairul Hazami, dan Kabid Pengembangan Syariah dan Dayah, Wirzaini Usman. (mawaddatul husna)

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/03/01/ustaz-yusuf-mansur-ungkap-rahasia-sukses-dengan-shalat-dhuha

Ngeduluin Allah, Jaaauuhhh Lebih Penting

 

 

 

 

Ada proyek…? Butuh investor…? Ada peluang usaha…? Butuh modal…?

Sebaik-baik investor adalah Allah. Jangan sampe manusia dicari, sedangkan Allah ga dicari. Manusia dideketin, tapi Allah? Coba deh, cari dan deketin Allah. Mudah, aman dan ga perlu dikembalikan.

Bawa segala proposal bisnis, peluang bisnis, langsung ke Rumah-Nya Allah. Bawa ke masjid. Come to Allah. Talk to Allah.

Sebagaimana kita bersabar dan gigih dalam mengetuk pintu manusia, harusnya sama Allah lebih sabar dan lebih gigih lagi.

Sampein sama Allah, “Hasilnya, bagi dua daaaahhh… Bagian Engkau, ga 2,5% lagiiii…” insyaAllah modalnya cair.

Sama investor yang namanya manusia, mau kasih bagi hasil tinggi, bahkan harus ngasih jaminan lagi. Sama Allah yang ga pake jaminan, baginya dikit banget.

Sama investor yang namanya manusia, taat banget. Tunduk banget. Disuruh datang jam 8, jam 07.00 udah stand by, wangi, rapih. Diundang Allah?

Kita kenal Allah tapi kayak ga tau. Tau, tapi kayak ga kenal. Dia Maha Kuasa loh. Bukan cuma bisa modalin, tapi bisa bikin usaha kita sukses.

Sama investor, ngejaga perasaan banget. Apa yang dia mau diturutin. Maksiat pun rela. Kalo sama Allah? Ampuuuuunnn…

Yuk dah, yang sedang tidak dalam perjalanan, yang sedang tidak kemana-mana, sambut kedatangan Pemilik Modal Tanpa Batas ….

Ikhtiar penting. Tapi ke Allah, inget Allah, ga lupa sama Allah, mentingin Allah, ngeduluin Allah, jaaaaauuuuhhh lebih penting.

Allah yang maha Kuasa. Kalo Allah udah bilang “Kun,” Fayakuuun… Allah bilang “Ada”, maka ada tuh modal. Allah bilang “jalan”, maka jalan tuh proyek. Allah bilang “lancar”, maka lancar tuh usaha …

Harusnya nih, yang benar-benar butuh modal, dikasih tahu kayak gini, langsung nemuin Allah. Wudhu, gelar sajadah, shalat, doa dan sedekah.

Tapi ya gitu deh. Dengar nama Allah, ga bergetar, ga bangun, ga tergerak. Tapi kalo dikasih satu nama dan nomor telepon orang kaya, wuaaaah … langsung sigap…

Jangan menjauhkan yang pengen dunia dari Yang Punya Dunia. Justru malah antar ke Allah. Jangan dihalang-halangin, jangan dilarang. Mau
kemana lagi emangnya?

Tinggal arahkan agar jadi hamba-Nya yang baik, yang ga lupa kalo udah diberi, yang ga meninggalkan setelah diberi, yang memakai pemberian-Nya dengan benar. Gitu.

Jangan malah orang udah benar datang ke Allah untuk minta dunia-Nya, eh dilarang-larang. Akhirnya malah ga ke Allah lagi. Ini lebih gawat.

Yang miskin datang ke Allah untuk minta kaya, itu udah benar. Positif aja kalo setelah kaya, dia ga akan lupa. Jangan belum-belum udah su’udzan bahwa yang miskin bakal lupa.

Tapi saya sepakat, ajarin jangan cuma minta dunia. Tapi ajarin juga untuk sabar, baik sangka, dan minta yang lebih tinggi dari dunia, yakni akhirat. Saya sepakat!

Yang ga sepakat, kalo kita ngelarang seseorang minta dunia kepada Yang Punya Dunia. Ga sepakat sama sekali. Lagian kita kan hidup di dunia. Masa ga boleh minta dunia.

Sumber : http://yusufmansur.com/ngeduluin-allah-jaaauuhhh-lebih-penting