Menag: Belajar Agama Itu Menyenangkan

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan salah satu cara untuk menangkal paham radikal di sekolah dasar, khususnya dalam Pendidikan Islam. Hal ini disampaikan Lukman usai membuka kegiatam International Islamic Education Expo (IIEE) di Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/11) malam.

“(Cara tangkal radikalisme) khusus sekolah dasar yang masih basic, kami mengajak belajar agama itu sesuatu yang menyenangkan. Tuhan dekat dengan kita. Agama sesuatu yang tidak hanya menyenangkan tapi kita dibutuhkan,” ujarnya Lukman saat ditanya wartawan.

Lukman mengatakan, kewajiban seorang pendidik dalam Pendidikan Islam adalah bagaimana mengajarkan Islam yang ramah dan Islam yang tidak memberikan kesan sebuah ancaman. Dengan demikian, anak didik ke depannya tidak mempunyai paham radikal ataupun paham yang ekstrem.

“Kewajiban pendidik jangan memberikan kesan Islam penuh dengan ancaman dan siksaan, ditakuti, ini harus ada perubahan. Islam sesuatu tidak hanya menyenangkan tapi menjadi kebutuhan manusia,” ucapnya.

Lukman menambahkan, dalam setiap diri manusia sebenarnya memiliki ruh tuhan, sehingga para pendidik seharusnya bisa memaksimalkan hal itu untuk melahirkan generasi yang mempunyai akhlakul karimah.

“Setiap diri manusia ada ruh tuhan. Jadi sebenarnya manusia memiliki jiwa ilahi. Itulah kebenaran yang harus dimaksimalkan, ada kebutuhan bertindak baik agama, hakikat, perilaku, dan akhlak,” katanya.

MUI: Afghanistan Tertarik Belajar Kemajemukan Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengatakan delegasi Afghanistan menyatakan tertarik untuk belajar dari Indonesia dalam mengelola kemajemukan masyarakatnya. Ketertarikan itu disampaikan dalam pertemuan dialog lintas organisasi antarnegara di Jakarta, Selasa (21/110 yang terdiri dari perwakilan High Peace Council (HPC) Afghanistan bersama Majelis Ulama Indonesia, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama.

Ma’ruf mengatakan delegasi dari Negeri Para Mullah itu dalam lawatannya ke Indonesia berdiskusi dengan sejumlah unsur masyarakat Indonesia seperti tokoh dan ulama nasional disertai kunjungan ke sejumlah lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren. “Yang lebih utama, bagaimana Indonesia yang begini majemuknya, rasnya banyak, agamanya banyak, ormas Islam juga banyak tapi bisa terkelola dengan baik,” kata dia.
Ia mengatakan, delegasi Afghanistan mengutarakan di negara yang sempat dikuasai Taliban tersebut sejatinya tidak memiliki keragaman latar belakang seperti di Indonesia. Mazhab Islam di Afghanistan juga tidak sebanyak di Indonesia. Akan tetapi, konflik di Afghanistan sangat mudah terjadi hanya karena gesekan-gesekan dari unsur masyarakat yang berbeda.

Menurut dia, Indonesia dengan keragamannya yang sangat banyak justru bisa bersatu dalam kemajemukan. Kendati begitu, diakui di Indonesia terjadi sejumlah konflik tapi begitu ada gesekan tidak akan terjadi konflik berkepanjangan seperti yang terjadi di Afghanistan.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI KH Muhyiddin Junaidi mengatakan HPC Afghanistan di dalamnya terdiri dari berbagai perwakilan ormas keagamaan dari negara tersebut. MUI, kata dia, memberi penjelasan kepada HPC mengenai cara penanganan konflik di Indonesia yang mengedepankan dialog daripada dengan cara tekanan oleh militer.
Di Indonesia, kata dia, juga mampu membuktikan apabila Islam mampu bersanding dengan demokrasi dan berjalan selaras dengan unsur keagamaan. Kebaikan-kebaikan dari persatuan Indonesia yang memiliki keragaman latar belakang harus terus ditularkan demi perdamaian dunia, terutama kepada Afghanistan.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/21/ozrzul384-mui-afghanistan-tertarik-belajar-kemajemukan-indonesia

Hikmah Shalat Khusyuk

Saat terindah bagi seorang pecinta adalah ketika ia bertemu, bercengkrama, dan berdialog dengan orang yang dicintainya. Ketika itu, segala beban hidup dan kenestapaan akan hilang seketika. Bagi para shalihin, bertemu Allah lewat shalat adalah saat yang paling dinantikan, karena pada waktu itulah ia bisa mencurahkan semua isi hati dan bermi’raj menuju Allah. Walau demikian, ia akan kembali lagi ke alam realitas untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang didapat dari shalatnya. Inilah makna sesungguhnya dari khusyuk.

Khusyuk dalam shalat merupakan sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Mukminun: 1-3, “Beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna”.

Di lain pihak Rasulullah bersabda: Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyuan. (HR. At-Tabrani ) Dua keterangan di atas setidaknya mengadung pesan bahwa shalat seharusnya mampu membawa perbaikan kualitas hidup kita. Dengan kata lain, bila kita ingin sukses dan ingin berhasil dalam hidup ini, maka kuncinya adalah punya iman dan mampu khusyuk dalam shalat. Siapa pun di antara kita yang tidak pernah meneliti kualitas shalatnya, besar kemungkinan ia tidak akan sukses dalam hidup.

Dalam surat yang lain, Allah bersabda, “Celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. Al Ma’un: 4-5). Redaksi ayat tersebut bukan fi tapi an, yang menggambarkan bahayanya lalai sesudah shalat. Khusyuk ketika shalat hanya memakan waktu sekitar satu jam, sedangkan sehari 24 jam.

Karenanya, tidak mungkin shalat itu hanya efektif untuk yang satu jam. Yakinlah bahwa shalat yang satu jam harus bagus dan sisanya yang 23 jam harus lebih bagus lagi. Maka orang yang shalatnya khusyuk adalah orang yang mampu berkomunikasi dengan baik ketika shalat, dan sesudah shalat ia betul-betul produktif berbuat kebaikan terhadap umat.

Lalu, apa hikmah shalat yang bisa kita dapatkan? Pertama, Allah mengingatkan kita lima kali sehari tentang waktu. Orang yang khusyuk dalam shalatnya dapat dilihat dari sikapnya yang efektif menggunakan waktu. Ia tidak mau waktunya berlalu sia-sia, karena ia yakin bahwa waktu adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Pelajaran kedua dari shalat adalah kebersihan.

Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam QS. As Syams: 9-10 Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya”. Dengan kata lain, siapa yang shalatnya khusyuk maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih.

Mulai dari dhahir, rumah harus bersih. Bersih dari sampah, dari kotoran, dan bersih dari barang-barang milik orang lain. Sikap pun harus bersih. Mata, telinga, dan juga lisan harus bersih dari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Dan yang terpenting pikiran dan hati kita harus bersih. Bersihnya hati akan memunculkan kepekaan terhadap setiap titik dosa, dan inilah awal dari kesuksesan.

Ketiga, sebelum memulai shalat kita harus memasang niat. Niat sangat penting dalam ibadah. Diterima tidaknya sebuh ibadah akan sangat dipengaruhi oleh niat. Seorang yang shalatnya khusyu akan selalu menjaga niat dalam setiap perbuatan yang dilakukannya. Ia tidak mau bertindak sebelum yakin niatnya lurus karena Allah. Ia yakin bahwa Allah hanya akan menerima amal yang ikhlas. Apa ciri orang ikhlas? Ia jarang kecewa dalam hidupnya. Dipuji dicaci, kaya miskin, dilihat tidak dilihat, tidak akan berpengaruh pada dirinya, karena semua yang dilakukannya mutlak untuk Allah.

Setelah niat, shalat memiliki rukun yang tertib dan urutannya. Jadi, hikmah keempat dari orang yang khusyuk dalam shalatnya adalah cinta keteraturan. Ketidakteraturan hanya akan menjadi masalah. Shalat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan hanya milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Orang yang shalatnya khusyuk dapat dilihat bagaimana ia bisa tertib, teratur, dan
prosedural dalam hidupnya.

Kelima, hikmah dari manajemen shalat yang khusyuk adalah tuma’ninah. Tuma’ninah mengandung arti tenang, konsentrasi, dan hadir dengan apa yang dilakukan. Shalat melatih kita memiliki ritme hidup yang indah, di mana setiap episode dinikmati dengan baik. Hak istirahat dipenuhi, hak keluarga, hak pikiran dipenuhi dengan sebaiknya. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk proporsional dalam beragama, karena itu salah satu tanda kefakihan seseorang. Bila ini bisa kita lakukan dengan baik insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan yang paripurna., yaitu sukses di kantor, sukses di keluarga, dan sukses di masyarakat.

Keenam, shalat memiliki gerakan yang dinamis. Sujud adalah gerakan paling mengesankan dari dinamisasi shalat. Orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemuliaan, tapi ketika sujud kepala dan kaki sama derajatnya. Bahkan setiap orang sama derajatnya ketika shalat. Ini mengandung hikmah bahwa dalam hidup kita harus tawadhu. Ketawadhuan adalah cerminan kesuksesan mengendalikan diri, mengenal Allah, dan mengenal hakikat hidupnya. Bila kita tawadhu (rendah hati) maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kesuksesan seorang yang shalat dapat dilihat dari kesantunan, keramahan, dan kerendahan hatinya. Apa cirinya? Ia tidak melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya.

Hikmah terakhir dari shalat yang khusyuk adalah salam. Shalat selalu diakhiri dengan salam, yang merupakan sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagimu. Ucapan salam ketika shalat merupakan garansi bahwa diri kita tidak akan pernah berbuat zalim pada orang lain. Ini adalah kunci sukses, karena setiap kali kita berbuat zalim, maka kezaliman itu akan kembali pada diri kita.

Inilah tujuh hikmah yang bisa kita ambil dari manajemen shalat khusyuk. Bila kita mampu mengaplikasikannya, insya Allah kesuksesan dunia dan akhirat ada dalam genggaman kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Abdullah Gymnastiar    REPUBLIKA – Senin, 29 September 2003

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/09/01/01/23827-hikmah-shalat-khusyuk

Sejarah Kopi di Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi banyak orang, meminum kopi bisa menjadi rutinitas. Tetapi, tahukah Anda, perjalanan kopi terbilang panjang untuk bisa dinikmati seperti sekarang?

Steven Topik menceritakan kopi telah menjadi simbol dalam berbagai praktik spiritual, kontroversi politik, bahkan alat tukar jual-beli. Sejarah kopi dimulai di Ethiopia. Kopi tumbuh liar dan sering digunakan masyarakat setempat untuk upacara komunal dan penahan lapar saat berburu.

Dilansir dari muslim village, kopi mulai menyebar ke bagian lain di benua Afrika. Beberapa kelompok mencoba membuat minuman yang mencampurkan kopi dengan buah berry. Ada pula yang mencampurnya dengan mentega agar mudah dikunyah. Di sana, kopi pun mulai berubah menjadi alat tukar dalam perdagangan. Di Tanzania, kopi menjadi mata uang untuk bisa membeli ternak atau komoditas lain.

Kopi pun mulai menyebar ke seantero dunia berkat jasa para pedagang Arab. Diketahui, muslim Sufi di Yaman sangat menyukai kopi. Pria dan wanita sama-sama berbagi mangkuk berisi kopi. Dulu, kopi diminum untuk mengatasi masalah kesehatan dan diyakini memberikan kedamaian pada peminumnya.  Di Yaman, kopi menjadi barang yang sangat dominan selama 250 tahun. Tak mengherankan kopi menjadi sumber kekayaan baik secara ekonomi dan militer kekaisaran Ottoman.

Di seluruh negara-negara muslim, kopi menjadi kontroversial. Topik menulis, kopi menarik perhatian terutama bagi orang-orang yang menghindari alkohol. Terlebih pada perayaan menjelang malam Ramadhan mereka meminum kopi. Beberapa ilmuwan agama keberatan, prihatin dengan sifat obat yang terkandung dalam kopi, dan diyakinkan oleh interpretasi Alquran yang memperingatkan penggunaan kopi.

Perhatian lainnya adalah munculnya kedai kopi. Pembuatan kopi yang membutuhkan keterampilan membuat kebanyakan pedagang membuka kedai. Para pedagang menyadari tak bisa sekadar menjual biji kopi. Oleh karena itu, mereka membuka kedai kopi kemanapun mereka pergi. Tak pelak, tempat berkumpul baru pun bermunculan dan membuat khawatir beberapa pemimpin agama. Misalnya kekhawatiran kedai kopi membuat orang malas datang ke masjid.

Namun, pada 1500, kopi populer di sekitar Jazirah Arab. Bahkan menurut beberapa cerita (mitos), orang-orang Arab memuji Muhammad dan Malaikat Jibril karena telah membawa kopi itu ke bumi. Orang-orang Timur Tengah meminum kopi mereka dengan warna yang hitam dan tanpa pemanis. Lalu ketika orang-orang Eropa mulai minum kopi mereka tak terkesan dengan rasanya tetapi tertarik dengan manfaat yang terkadung dalam kopi.

Seiring waktu, Topik menulis, perkumpulan tersebut bergeser. Kopi menjadi minuman akademisi Eropa dan kapitalis. Tapi sama seperti di Timur Tengah, kedai kopi yang menjadi tempat bersosialisasi, juga dikhawatirkan beberapa penguasa Eropa. Kekhawatiran ini ternyata bisa dibenarkan, ketika kedai kopi berfungsi sebagai markas untuk merencanakan revolusi di 1789 Prancis, serta di 1848 Berlin, Budapest, dan Venesia.

Dengan pertumbuhan masyarakat konsumen di Eropa dan Amerika Serikat, penikmat kopi menyebar ke kelas pekerja. Ketika tentara Revolusi Amerika menerima jatah rum, justru tentara Perang Saudara itu mendapat kopi. Seorang pejuang mengklaim, jika ada kehormatan yang cukup bagi para veteran untuk membuat sebuah agama baru, mereka akan manjadikan kopi sebagai Tuhan.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/17/10/16/oxw9ir335-sejarah-kopi-di-islam

Saat Orang Rimba Bersyahadat dan Memilih Masuk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Orang Rimba diibaratkan sebagai suku primitif karena jauh dari perkembangan teknologi, bahkan tidak diketahui keberadaannya karena tinggal di pedalaman hutan. Nyatanya Indonesia memiliki beberapa tempat yang dijadikan ‘rumah’ bagi orang rimba hidup, salah satunya hutan hujan Sumatera.

Namun ketika orang-orang berdompet tebal membakar hutan demi menanam barisan pohon sawit, orang rimba akhirnya harus meninggalkan rumahnya menuju tempat baru, Jambi. Saat menempati tempat barunya, orang rimba tentu harus beradaptasi dengan lingkungan barunya yang lebih ‘terbuka’ dibandingkan rumah mereka sebelumnya.

Orang rimba yang sejatinya tidak berteguh pada satu kepercayaan, selain adanya hal yang diyakini sebagai roh atau dewa. Namun, sejak banyaknya pihak yang berniat membantu kehidupan orang rimba, salah satunya ormas Front Pembela Islam (FPI) memberikan bantuan, mereka diajak untuk mulai mengenal agama islam.

Salah satu da’i dari rombongan tersebut, Ustaz Reyhan bahkan memutuskan untuk tinggal untuk membina langsung orang rimba yang ingin mempelajari lebih jauh tentang islam. Usaha Reyhan menyebarkan ajaran Islam berbuah manis, dengan terucapnya dua kalimat syahadat dari bibir-bibir orang rimba tersebut.

“Untuk saat ini kami berfokus pada anak-anak, lebih mudah untuk mengkonversinya – pikiran mereka tidak dipenuhi dengan hal-hal lain. Dengan yang lebih tua itu lebih sulit,” kata Reyhan seperti dilansir BBC pekan lalu.

Menurut Reyhan, sebelum mengenal Islam, orang rimba tidak memiliki tuntunan hidup, dan hanya mengandalkan insting. Saat salah satu dari mereka meninggal, biasanya jenazahnya hanya ditinggalkan di tengah hutan tanpa dikubur. “Kini hidup mereka memiliki makna dan arahan. Agama juga membuat mereka paham bahwa ada kehidupan lain setelah kematian,” kata dia.

Pemimpin suku rimba, Muhammad Yusuf mengaku turut memutuskan untuk memeluk Islam. Meskipun awalnya dia mengambil keputusan masuk Islam karena tidak adanya pilihan lain, tapi kini dia mengaku sangat bersyukur. Keyakinan atau agama, bagi Yusuf adalah salah satu cara untuk menyetarakan diri dengan orang lain yang tinggal di daerah ‘terang’ atau orang yang hidup di wilayah yang modern.

“Agar anak-anak bisa memiliki kesempatan yang sama dengan orang luar, orang-orang terang, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus semua masuk Islam,” kata Yusuf.