Saat Orang Rimba Bersyahadat dan Memilih Masuk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Orang Rimba diibaratkan sebagai suku primitif karena jauh dari perkembangan teknologi, bahkan tidak diketahui keberadaannya karena tinggal di pedalaman hutan. Nyatanya Indonesia memiliki beberapa tempat yang dijadikan ‘rumah’ bagi orang rimba hidup, salah satunya hutan hujan Sumatera.

Namun ketika orang-orang berdompet tebal membakar hutan demi menanam barisan pohon sawit, orang rimba akhirnya harus meninggalkan rumahnya menuju tempat baru, Jambi. Saat menempati tempat barunya, orang rimba tentu harus beradaptasi dengan lingkungan barunya yang lebih ‘terbuka’ dibandingkan rumah mereka sebelumnya.

Orang rimba yang sejatinya tidak berteguh pada satu kepercayaan, selain adanya hal yang diyakini sebagai roh atau dewa. Namun, sejak banyaknya pihak yang berniat membantu kehidupan orang rimba, salah satunya ormas Front Pembela Islam (FPI) memberikan bantuan, mereka diajak untuk mulai mengenal agama islam.

Salah satu da’i dari rombongan tersebut, Ustaz Reyhan bahkan memutuskan untuk tinggal untuk membina langsung orang rimba yang ingin mempelajari lebih jauh tentang islam. Usaha Reyhan menyebarkan ajaran Islam berbuah manis, dengan terucapnya dua kalimat syahadat dari bibir-bibir orang rimba tersebut.

“Untuk saat ini kami berfokus pada anak-anak, lebih mudah untuk mengkonversinya – pikiran mereka tidak dipenuhi dengan hal-hal lain. Dengan yang lebih tua itu lebih sulit,” kata Reyhan seperti dilansir¬†BBC¬†pekan lalu.

Menurut Reyhan, sebelum mengenal Islam, orang rimba tidak memiliki tuntunan hidup, dan hanya mengandalkan insting. Saat salah satu dari mereka meninggal, biasanya jenazahnya hanya ditinggalkan di tengah hutan tanpa dikubur. “Kini hidup mereka memiliki makna dan arahan. Agama juga membuat mereka paham bahwa ada kehidupan lain setelah kematian,” kata dia.

Pemimpin suku rimba, Muhammad Yusuf mengaku turut memutuskan untuk memeluk Islam. Meskipun awalnya dia mengambil keputusan masuk Islam karena tidak adanya pilihan lain, tapi kini dia mengaku sangat bersyukur. Keyakinan atau agama, bagi Yusuf adalah salah satu cara untuk menyetarakan diri dengan orang lain yang tinggal di daerah ‘terang’ atau orang yang hidup di wilayah yang modern.

“Agar anak-anak bisa memiliki kesempatan yang sama dengan orang luar, orang-orang terang, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus semua masuk Islam,” kata Yusuf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *